Tips Menyimpan Minyak Atsiri dari Tanaman Penghasil Minyak Esensial Agar Tahan Lama
Kualitas dari sebuah minyak dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti proses ekstraksi awal dan pasca pengolahan.
Pola penyimpanan turut andil dalam menentukan kualitas sebuah minyak. Tak terkecuali dalam hal cara menyimpan minyak atsiri agar aromanya tetap terjaga.
Minyak atsiri merupakan minyak esensial yang diekstrak dari berbagai tanaman penghasil minyak atsiri melalui proses distilasi atau penyulingan.
Bagian dari tumbuhan atau tanaman yang mengandung minyak atsiri ini bisa berupa kelopak bunga, daun, kulit kayu, biji, hingga akar.
Pola penyimpanan sangat menentukan kualitas dari ekstrak minyak alami ini. Oleh karena itu, mengetahui cara menyimpan minyak atsiri yang baik dan benar menjadi sangat penting.
Dampak dari penyimpanan yang tepat tidak hanya menjaga kualitas aroma, tetapi juga memperpanjang masa simpan minyak.
Tips Mudah dalam Menyimpan Minyak Atsiri

Menyimpan minyak atsiri dengan harapan bisa tahan lebih lama memang gampang-gampang susah. Anda relatif hanya perlu sedikit lebih teliti dan berhati-hati.
Untuk memudahkan, berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan.
1. Sterilisasi Minyak Atsiri sebelum Disimpan
Sebaiknya Anda tidak terburu-buru menyimpan minyak atsiri sebelum memastikannya dalam kondisi bersih dan steril.
Seaman apa pun wadah penyimpanan, jika minyak atsiri itu sendiri kotor, kualitasnya tetap akan menurun pesat.
Lakukan pembersihan untuk memastikan tidak ada unsur pengganggu seperti air, sampah organik, atau benda asing. Terlebih setelah melalui proses pengiriman melalui jasa sewa truk box dan sejenisnya.
2. Menyimpan Minyak Atsiri dalam Wadah Gelap
Penyimpanan minyak atsiri sebaiknya dilakukan dalam wadah berwarna gelap.
Langkah ini bertujuan mengurangi risiko fotodegradasi akibat paparan sinar matahari maupun lampu.
Wadah transparan yang terpapar cahaya cenderung membuat minyak atsiri cepat berubah warna. Minyak atsiri juga bisa dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan alami jika disimpan dengan benar.
Fotodegradasi terjadi karena senyawa terpen alifatik dan furan sangat reaktif terhadap cahaya. Tempat penyimpanan seperti Rumah kayu cukup cocok untuk menjaga kestabilan suhu lingkungan.
3. Simpan pada Suhu Rendah
Aspek suhu ruang penyimpanan juga sangat krusial. Minyak atsiri akan lebih tahan lama jika disimpan pada suhu rendah, idealnya di bawah 18 derajat Celcius.

Suhu rendah menjaga stabilitas senyawa reaktif agar tidak mudah bereaksi dengan unsur luar.
Anda bisa memanfaatkan lemari es, showcase khusus, atau selimut Nitrogen. Penggunaan essential oil untuk humidifier juga membutuhkan penyimpanan suhu sejuk agar khasiat aromaterapinya tidak hilang.
4. Memanfaatkan Wadah Plastik dengan Cermat
Untuk meminimalkan biaya produksi, penyuling sering menggunakan botol atau ember plastik gelap sebagai wadah penyimpanan.
Namun, penyimpanan dalam wadah plastik berisiko mengalami pencemaran dari plastisizer.
Beberapa jenis minyak yang berasal dari pohon penghasil minyak gosok hangat atau kayu manis bersifat korosif dan bisa merusak wadah plastik PE dalam beberapa hari.
5. Memanfaatkan Botol Kaca atau Logam Khusus
Selain plastik, wadah logam juga kerap digunakan. Namun, pastikan jenis logamnya tidak bereaksi dengan minyak atsiri.

Reaksi antara logam dan minyak bisa mengubah warna dan aroma alami minyak atsiri. Jika menggunakan botol kaca, Anda bisa membelinya melalui penyedia grosir botol parfum terpercaya.
Untuk bahan logam, pilihlah Stainless Steel 316 L yang aman. Pastikan botol selalu ditutup rapat agar terhindar dari oksidasi cepat.
6. Jauhkan Penyimpanan dari Paparan Matahari Langsung
Minyak atsiri sangat peka terhadap panas. Mengetahui manfaat minyak kayu putih atau minyak atsiri lainnya saja tidak cukup tanpa cara penyimpanan yang benar.
Paparan sinar matahari secara langsung dapat mengubah komposisi kimia serta mempercepat penguapan.
Simpan selalu minyak atsiri pada tempat yang sejuk, kering, dan gelap agar daya simpannya bertahan lama.
